Entries tagged with “sejarah”.


Judul               : Hagakure: The Wisdom of Samurai

Penulis             : Yamamoto Tsunetomo

Penerbit           : Oncor Semesta Ilmu

Tebal               : xviii + 142

Tahun Terbit    : 2012

Ketika kesamuraian dipertanyakan, Bushido sebagai jalan tak lekang oleh jaman

Samurai dalam benak kita biasanya merupakan orang yang mahir menggunakan pedang, ikut berperang, dan hidup ratusan tahun silam di Jepang. Kesamuraian seseorang bukan hanya melekat pada mereka yang mahir menggunakan pedang serta ikut berperang saja, melainkan setiap orang yang menjalankan falsafah hidup ‘bushido’. Bushido merupakan filsafat tentang prinsip-prinsip hidup bagi seorang samurai atau kaum ‘bushi’ (orang yang berperang).Bushido yang diajarkankepadapara samurai, lahirdariperpaduanBuddhisme, Chu-Thu, Konfusianismedan Shinto.

Ada delapan prinsip dalam ajaran bushido. Pertama, prinsip Jin untuk mengembangkan pemahaman supaya bersimpati kepada orang lain. Kedua, Gi berarti menjaga etika yang benar. Ketiga, Chu menunjukkan kesetiaan kepada junjungan. Keempat, Ko yang berarti menghormati dan menyayangi orang tua. Kelima, Rei menunjukkan hormat pada sesama. Keenam, Chi memiliki arti meningkatkan kebijaksanaan dengan memperluas pengetahuan. Ketujuh, Shin untuk senantiasa jujur sepanjang waktu. Terakhir, prinsip Tei untuk mencintai orang tua dan juga mereka yang patut dikasihani.Kedelapan prinsip tersebut harus senantiasa dijalankan supaya seorang samurai tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupannya.

Buku Hagakure: The Wisdom of Samurai ditulis untuk mengantarkan pembaca pada pemikiran para samurai, ketika Jepang memasuki periode Jaman Edo (1600-1868). JamanEdo merupakan jaman kedamaian setelah adanya masa peperangan antara Shogun Hideyoshi Toyotomi dengan Ieyasu Tokugawa. Peperangan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Ieyasu Tokugawa yang selanjutnya membawa kedamaian di Jepang. Jaman kedamaian ini secara tidak langsung merubah kehidupan para samurai.Para samurai yang awalnya hidup dalam tekanan perang kemudian menyarungkan pedang dan menjalani kehidupan biasa.

Perubahan itu turut berpengaruh terhadap cara hidup kaum samurai. Cara hidup mereka pada awalnya penuh dengan kewaspadaan terhadap para musuh ,terbiasa hidup dalam keprihatinan, dan dekatdengan kematian. Namun, pada masa damai itu, hidup mereka penuh dengan ketentraman serta jauh dari hidup prihatin dan serba terbatas.

Perbedaan perspektif antara samurai pada generasi masa damai dengan generasi sebelumnya, mengilhami Yamamoto Tsunetomo untuk menulis buku ini.Hal ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinannya akan perubahan pemikiran para samurai terhadap filsafat bushido. Samurai cenderung melupakan dan tidak lagi menjunjung tinggi bushidonya. Akibatnya, banyak samurai yang tidak lagi memiliki prinsip hidup yang jelas. Yamamoto ingin menghidupkan kembali filsafat bushido itu melalui penceritaan potongan kisah-kisah keseharian para samurai.

Selain ingin menghidupkan kembali filsafat bushido, Yamamoto juga mengembangkan pemikiran filsafatnya sendiri. Pemikiran filsafatnya terpengaruh oleh ajaran Zen dan Konfusianisme yang popular pada waktu itu. Pengaruh ini tak lepas dari kepemimpinan Ieyasu Tokugawa yang pada waktu itu menerapkan system feodalisme di dalam masyarakat. Namun,terlepas dari pengaruh system feodalistik dalam pemerintahan, buku ini dapat memberikan pencerahan bagi setiap orang yang ingin menja diseorang ‘samurai’ sejati.MenurutYamamoto ,dengan berpegang pada empat falsafah hidup samurai, seseorang akan menjadi samurai sejati tanpa harus menghunuskan pedang di medan perang.

Prinsip yang pertama, setiap samurai harus berpegang teguh pada bushidonya. Bushido memiliki tujuan sebagai sebuah kode kehormatan dan aturan hidup bagi para samurai. Kedua, selalu melayani junjungannya dengan segenap kekuatan. Melayani junjungan adalah tugas terhormat bagi seorang samurai.Oleh karena itu, jika ia gagal dalam melayani dan menjalankan tugas dari junjungannya maka ia tidak dapat menjadi seorang samurai yang sejati. Ketiga, menjalankan kewajibanmu sebagai anak.Prinsip terakhir berbuat baik kepada orang laindengan cinta dalam hatimu. Keempat prinsip tersebut harus dipegang teguh oleh setiap orang yang berkeinginan menjadi ‘samurai’.

Meskipun buku ini telah ada kurang lebih 300 tahun silam, namun isinya masih sangat relevan jika dilihat dalam konteks kehidupan saat ini.Dapat dikatakan demikian, karena buku ini mengandung banyak pengetahuan serta kebijaksanaan. Pengetahuan dan kebijaksanaan yang  ada dalam buku ini tidak hanya dikhususkan pada seorang samurai. Lebih dari itu, pengetahuan dan kebijaksanaan yang ada juga diperuntukkan bagi mereka yang ingin memahami kehidupan samurai.

Dengan mengambi lkisah keseharian para samurai, Yamomoto secara implicit ingin menjelaskan inti filsafat samurai dengan lebih mudah. Melalui penceritaan kisah-kisah para samurai, pembaca diajak untuk menghayati dan merefleksikan apa yang selama ini di jalani. Walaupun, contoh kisah yang disajikan terdengar naïf serta lucu bagi mereka yang berfikir logis. Namun tetap asyik untuk di baca sebagai bacaan diwaktu senggang. Seperti penggalan contoh kisah berikut yang terdengar naïf dan lucu jika diinterpretasikan secara bebas.

“Mimpi-mimpi seseorang itu mencerminkan hati dan jiwanya. Saya sering mimpi bertarung hingga mati atau melakukan seppuku (bunuhdiri), dan ketika mimpi itu terus menerus mendatangi saya, akhirnya saya terbiasa dengan gagasan tentang kematian dan merasa nyaman dengannya”

Kelebihan yang lainbuku ini ialah mampu mengangkat kisah keseharian yang sederhana kedalam rangkaian kata penuh makna. Selain itu, kisah-kisah yang disajikan terlihat tidak monoton Disisi lain, buku ini menuntut pembacanya untuk mau berpikir lebih cerdas dan membaca lebih cermat.Tuntutan ini semata-mata agar para pembaca benar-benar dapat merefleksikan kehidupannya dengan para samurai. Dengan cara merefleksikan pemikiran tersebut, secara tidak langsung pembaca sudah menjadi samurai sejati. Demikianlah pemikiran samurai, tetapi pilihan tetap ada ditangan pembaca. Ingin menjadi seorang samurai atau manusia biasa. [Dias Prasongko]

Ditulis untuk www.Balairungpress.com

Setelah reformasi berjalan masih banyak keraguan timbul tetang permasalahan Gerakan 30 September 1965. Semua diakibatkan karena kebenaran tentang peristiwa tersebut yang ada dan terbentuk sejak semula masih banyak diragukan substansinya oleh banyak pihak. Semua juga dikarenakan banyaknya versi yang muncul dari berbagai kalangan mulai dari versi pemerintah sampai versi para akademisi yang mencintai Indonesia. Meskipun oleh pemerintahan sudah dibuktikan bahwa dalang dari peristiwa Gerakan 30 September 1965 adalah PKI tetapi masih banyak pihak yang meragukannya. Ada beberapa versi yang mencoba menjelaskan apa yang terjadi dan siapa yang mendalangi peristiwa pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 yaitu versi pelaku PKI, versi pelaku Soeharto, versi pelaku Soekarno, versi persoalan internal AD.

 

Versi PKI

Versi ini merupakan versi resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah RI. Versi ini muncul didukung dengan terbitnya buku berjudul Gerakan 30 September : Pemberontakan Partai Komunis Indonesia yang diterbitkan oleh Sekretariat Negara Republik Indonesia pada tahun 1994. Dalam buku itu dijelaskan bahwa gerakan tersebut digerakkan oleh Letkol Untung. Menurut Rosihan Anwar dalam bukunya yang berjudul Sebelum Prahara : Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965 disebutkan bahwa adanya Dewan Revolusi pimpinan Letkol Untung, Komandan Batalyon Cakrabirawa. Selain itu adanya pembuktian secara hukum oleh pemerintah setelah tertangkapnya Ketua Comitee Daerah Besar PKI Jakarta Raya yang bernama Nyono. Ia membuat pengakuan yang ditulis dengan tanganya sendiri bahwa gerakan tersebut yang dipimpin oleh Letkol Untung memang diatur oleh pihak PKI.

Dengan apa yang sudah dinyatakan oleh Nyono tersebut menjadi bukti yang cukup kuat mengapa PKI diputuskan sebagai dalan adanya peristiwa Gerakan 30 September 1965. Setelah itu pada tanggal 4 Desember 1965 berdasarkan Keputusan Presiden No. 370 Tahun 1965 di bentuklan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) serta menugasi Mayjen Soeharto untuk mengusut siapa yang harus diperiksa dan diadili oleh Mahmilub.

Versi Persoalan Internar Angkatan Darat

Manurut versi ini masalah Gerakan 30 September merupakan persoalan TNI AD yang dilakukan oleh sekelompok perwira karena merasa tidak puas dengan para pemimpinnya di tubuh Angkatan Darat. Anggapan ini muncul karena adanya pernyataan dalam siaran RRI pada tanggal 1 Oktober 1965 pada pukul 07.00 yang berbunyi “…telah terjadi gerakan militer dalam Angkatan Darat dengan dibantu oleh angkatan bersenjata lainya.” Oleh karena pernyataan ini mengakibatkan munculnya dokumen yang berjudul A Preliminary Analysis of The October 1, 1965 Coup in Indonesia yang lebih dikenal dengan nama Cornell Paper. Dokumen ini diterbitkan oleh Cornell University yang di tulis oleh Benedict Anderson bersama Ruth Mc Vey. Selain itu ada juga buku yang ditulis oleh Wertheim yang berjudul Whose Plot? New Light in the 1965 Events, The 30 September Movement yang juga mempunyai cerita yang hampir sama denga Cornell Paper.

Yang paling menarik dan mendapat banyak sorotan dari publik Indonesia ialah Cornell Paper. Dapat dikatakan demikian karena dokumen tersebut muncul dari tangan seorang ilmuan yang sangat mencintai serta mengerti betul tentang Indonesia.

Versi Pelaku Soeharto

Versi ini muncul karena adanya dokumen yang diberi nama Cornell Paper tersebut. Ada dua alasan yang dapat dipakai mengapa dapat dikatakan demikian. Pertama, adanya pertemuan antara Mayjen Soeharto dengan Letkol Abdul Latief di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Kedua, mengapa Mayjen Soerhato tidak ikut diculik bersama para Jenderal yang lainya. Selain itu adanya media massa “Sinar  Reformasi” yang terbit pada 17 Oktober 1998 memberitakan mengenai kerterlibatan Soerharto dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Menurut media tersebut bahwa Soerhato memiliki musuh-musuh perwira dalam Angkatan Darat sehingga wajar jika Soeharto ikut terlibat dalam peristiwa tersebut.

Selain Sinar Reformasi ada juga majalah “Adil” yang juga ikut memberitakan bahwa Soerharto memiliki kertelibatan dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dalam majalah itu dikisahkan bahwa Soerharto memiliki hubungan yang dekat dengan seorang agen khusus PKI bernama Sjam Kamaruzaman sejak ia tinggal di Yogyakarta. Selain itu kedekatan Soerhato dengan Letkol Untung yang dulu pernah menjadi bawahannya namun kini menjadi pemimpin Gerakan 30 September 1965 juga ikut disertakan didalamnya.

Versi Pelaku Soerkarno

Menurut pada penganut versi ini bahwa Presiden Soekarno yang menjadi dalang adanya Gerakan 30 September 1965. Pendapat ini muncul setelah adanya gerakan dari mahasiswa yang menuduh Soerkarno ikut bertanggung jawab atas Gerakan 30 September 1965. Selain itu ada beberapa ilmuan luar negeri yang juga menganggap bahwa Soekarno memiliki andil dalam Gerakan 30 Septetmber 1965 tersebut seperti Antonie Dake. Ia membuat buku dengan judul In The Spirit on The Red Banten The Devious Dalang : Soekarno ans So-Called Untung Puttsc. Selain Dake ada juga nama lain yang mempunyai pandangan sama terhadapat peristiwa ini. John Hugghes dengan bukunya yang berjudul The End of Soekarno memiliki kesepahaman dengan Dake.

Versi ini berpegang pada keadaan ketika Soekarno berada di daerah Lanud Halim. Yang pada saat bersaamaan pemimpin besar PKI, DN Aidit juga berada di daerah Lanud halim tersebut. Semua itu menimbulkan pertanyaan yang mendasar mengapa pada saat bersamaan  Presiden Soerkarno berada di Lanud Halim yang notabene dekat dengan dareah Lubang Buaya tempat para Jendral dimasukkan. Ditambah dengan keberadaan DN Aidit yang juga pada saat itu berada di sekitaran Lanud Halim. Semua itu menjadi alasan mengapa ada anggapan bahwa Presiden Soerkarno dianggap mempunyai Andil bahwa Gerakan 30 September 1965 terkait dengannya.

Argumen

Dari beberapa versi tentang peristiwa Gerakan 30 September 1965 tersebut memang belum semuanya mempunyai kebenaran yang absolut. Apa yang ditulis oleh beberapa pihak diatas dan mereka mengangganya sebagai suatu kebenaran memang sah-sah saja. Tetapi perlu diketahui bahwa jika kita ingin melihat peristiwa Gerakan 30 September 1965 tidak bisa hanya melihat dari satu sisi atau pendapat saja melainkan harus melihat setiap kemungkinan yang bisa terjadi. Mengingat peristiwanya yang sampai saat ini masih menjadi misteri bahkan bagi rakyat Indonesia sendiri peristiwa harus dilihat secara keseluruhan mulai dari awal sebelum terjadinya sampai akhir peristiwa. Seperti yang dikatakan oleh John Roosa “ bahwa arti penting sesungguhnya Gerakan 30 September 1965 terletak pada hubungan gerakan ini pada peristiwa yang mengikutinya.” Jadi kita harus melihat keseluruhan peristiwa yang menjadi penyebab serta yang menjadi akibat dari peristiwa ini.

Dengan begitu dapat dilihat kaitan benang yang menaungi adanya peristiwa ini. Bahwa peristiwa ini merupakan konspirasi antara Angkatan Darat dengan Soeharto. Mereka menggunakan Gerakan 30 September 1965 yang dilakukan oleh PKI sebagai alat untuk melakukan penggulingan terhadap Soekarno dari tampuk kekuasaannya. [DP]